Lensa News

Fakta, Data dan Realita

Monday 17th June 2024

Kelompok Nelayan Tuntut PT KSS Menutup Aktivitas Pengerukan Tanah Di Sungai Simangalam

Kelompok Nelayan Tuntut PT KSS Menutup Aktivitas Pengerukan Tanah Di Sungai Simangalam

Labura, LENSA NEWS

Bertempat di Kantor DPRD ruang Komisi B Kab Labura pada Rabu (26/1) sekira pkl 11.00 WIB dilaksanakan rapat dengar pendapat (RDP) Tentang Laporan Tuntutan Kelompok Nelayan Alam Jaya Lestari Desa Simangalam Kec Kualuh Selatan Kab Labura kepada DPRD agar menutup aktivitas pengerukan tanah di sungai Simangalam oleh PT KSS.

RDP ini diawali dengan paparan Ketua Kelompok Nelayan yang menyampaikan bahwa selama ini Kelompok Nelayan melakukan kegiatan di sungai Simangalam menangkap ikan sebagai sumber mata pencaharian.

Namun selama ini penghasilan nelayan di Desa Simangalam mengalami penurunan hasil tangkap ikan hingga 20 %.Akibat penurunan penghasilan ini pihak nelayan merasa dirugikan sebab adanya Beko Panton milik PT KSS yang beroperasi di sungai Simangalam.
Rapat ini dipimpin langsung ketua komisi B Syahrul Siagian SE.

Selanjutnya Keterangan dari ketua kelompok nelayan Helmiadi Nasution menyampaikan Beko Panton milik PT Karya Sari Sentosa PT (KSS) mencangkul tanah untuk kepentingan pribadi PT KSS. Daerah Aliran Sungai (DAS) dijadikan milik PT KSS yang di beco dari pinggir sungai selanjutnya ditanami pohon kelapa sawit.

Menurut anggapan nelayan dengan adanya aktifitas Beco Panton maka habitat dari hewan seperti Ikan, Buaya yang berada di sungai merasa terganggu hingga ikan sulit dicari untuk ditangkap oleh para Nelayan.Selain merusak habitat hewan juga Alat tangkap yang dipergunakan oleh kelompok Nelayan seperti bubu yang berada di dalam sungai rusak akibat beco panton. Maka kami Kelompok Nelayan Alam Jaya Lestari Desa Simangalam menuntut ganti rugi kepada PT KSS atas kerusakan alat tangkap ikan.

Selanjutnya Helmiadi Nasution mengatakan selama alat Beco Panton milik PT KSS hilir mudik di sungai pihak nelayan tidak dapat melakukan penangkapan ikan untuk mencari nafkah hidup sebab selama ini mereka menghasilkan nilai ekonomis dari hasil penangkapan ikan hanya mengantongi keuntungan sekira 200 ribu rupiah per hari.

Kemudian keterangan dari Pihak PT KSS melalui Asisten Kepala RM Danu menyampaikan satu per satu jawaban permasalahan yang disampaikan Kelompok Nelayan dimana pertama masalah bergeraknya Beco Panton di sungai Simangalam terkait adanya permohonan Pemerintahan Desa Simangalam untuk normalisasi sungai dan membuat benteng mencegah banjir. Mengenai pekerjaan di Daerah Aliran Sungai (DAS), selama ini pihak PT KSS hanya keperluan membuat benteng saja disekitar areal karena tidak tau seluas mana DAS sungai Simangalam.

Memang ada disekitar DAS ditanami tanaman. Yang ke dua
Tentang habitat buaya dan Ikan yang terganggu belum tentu benar akibat kegiatan Beco Panton di sungai simangalam ini karena belum ada uji secara ilmiah.

Tentang alat tangkap ikan milik kelompok Nelayan yang rusak untuk diganti rugi pihak PT KSS tidak bisa menerima usulan pihak Nelayan disebabkan PT KSS belum menerima bukti kerusakan.

Selanjutnya sebut Danu Kerugian yang mengakibatkan turunnya hasil tangkapan ikan oleh Nelayan akibat bergeraknya Panton belum tentu kami memberi pendapat kebenarannya cetus Danu.

Selanjutnya Kepala Desa Simangalam Arsinius Marpaung menyampaikan dalam RDP setelah mendengar delik aduan Kelompok Nelayan kepada komisi B DPRD Kab Labuhanbatu Utara Nelayan merugi akibat Beco Panton di Sungai Simangalam sudah ada permohonan dari Pemerintahan Desa Simangalam kepada PT KSS perihal normalisasi sungai Simangalam. Dan sudah lama berjalan karena kebutuhan normalisasi sungai Simangalam bukan semata hanya di Desa Simangalam namun untuk kepentinga 8 Desa.

Kades mengharapakan dgn adanya rapat ini kedepan kedua belah pihak sama-sama beruntung. Akhir-akhir ini pihak PT KSS mengeluh akibat kehilangan BTS dan menurun produksi.

” Kelompok nelayan yang berjumlah lebih kurang 50 orang betul-betullah menjadi Nelayan” ujar Kades tanpa merinci apa maksud dan tujuan unkapannya.

Saya tidak bela sana sini semua punya kekurangan.Kalau ada niat dan kemauan serta komitmen untuk saling menjaga lingkungan disekitar sungai pasti saling menguntungkan ujar Kades.
Saya ucapkan terimakasih atas adanya selama ini kegiatan normalisasi sehingga mencegah banjir di desa Simangalam.

Apa permintaan dari nelayan mohon direspon
Tolong kelompok nelayan betul-betul.

Sejak tahun 2008 pemerintahanan Desa.Simangalam telah membuat permohonan untuk normalisasi sungai baik kepada pemerintah Kabupaten hingga pemerintah Propinsi
Sumatera Utara. Dan baru terealisasi sepanjang 3 km normalisasi sungai terlaksana pada tahun 2008. (MH)

banner 468x60

No Responses

Comments are closed.

lainnya: